Nasib Saham Berorientasi Dividen di Tengah IHSG yang Berkembang di 2025

Jakarta, 28 Desember 2025 — Sepanjang tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat laju yang cukup solid, dengan penguatan signifikan yang mencerminkan optimisme pasar modal domestik dalam menghadapi kondisi ekonomi nasional yang relatif stabil. Namun, tidak semua segmen saham “ikut mekar” sejalan dengan tren pasar secara keseluruhan, khususnya kelompok saham yang dikenal dengan orientasi dividen.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa indeks yang mewakili saham-saham berdividen tinggi — seperti IDX High Dividend 20 — justru mengalami tekanan sepanjang tahun ini. Meskipun IHSG tumbuh kuat, indikator saham berorientasi dividen tersebut mencatatkan koreksi tipis, kontras dengan performa indeks pasar yang lebih luas.

Performa Dividen vs. IHSG

Analis pasar menyatakan sejumlah saham yang biasanya menjadi favorit investor dividen, termasuk saham-saham di sektor perbankan dan komoditas, menunjukkan kinerja harga yang kurang optimal. Kondisi ini dinilai sebagai salah satu faktor utama yang membebani penguatan indeks dividen tersebut.

Beberapa konstituen indeks berdividen tinggi, seperti saham bank besar dan perusahaan tambang batu bara, mengalami penurunan harga yang lebih dalam dibandingkan dengan saham-saham di sektor teknologi atau indeks pasar secara keseluruhan. Hal ini menyebabkan tema dividen kurang mencolok meskipun IHSG terus mencatatkan angka pertumbuhan.

Pendorong Pertumbuhan IHSG

Di sisi lain, sektor teknologi dan beberapa saham lapis kedua justru mencatat kenaikan harga yang cukup impresif sepanjang 2025, membantu IHSG mempertahankan performa positifnya. Faktor-faktor seperti minat investor pada saham-saham pertumbuhan dan breakout sektor teknologi turut memperkuat pasar modal Indonesia di tengah tantangan pada saham berorientasi dividen.

Prospek Tema Dividen

Meski kinerja saham dividen belum sejalan dengan tren IHSG tahun ini, analis pasar masih melihat potential upside jangka panjang bagi tema dividen, terutama apabila kebijakan moneter domestik — seperti penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia — mendorong perbaikan fundamental di sektor perbankan dan sektor lain yang menjadi konstituen saham berdividen.

Pandangan ini mencerminkan bahwa meskipun dividen tidak menjadi motor utama penguatan indeks di 2025, tema ini tetap menarik untuk investor jangka panjang yang memprioritaskan imbal hasil berulang dari portofolio mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top