Jakarta, 13 Februari 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali memberikan ultimatum kepada operator proyek Blok Masela, yaitu Inpex Masela Ltd, terkait lambatnya pengembangan Lapangan Gas Abadi di wilayah Maluku.
Dalam sebuah kuliah umum di Jakarta, Bahlil menegaskan bahwa konsesi Blok Masela telah dipegang oleh Inpex selama 26 tahun namun belum menunjukkan progres produksi yang signifikan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa proyek strategis nasional ini “jalan di tempat” meskipun sudah lama berada di tangan perusahaan asal Jepang itu.
Bahlil menyatakan telah memanggil manajemen Inpex dan memberikan peringatan keras terkait percepatan pembangunan proyek LNG tersebut. Ia menegaskan, jika Inpex tidak serius mempercepat proses pembangunan dan produksi, pemerintah tidak segan-segan mencabut izin usaha perusahaan tersebut. “Kalau you nggak mau, satu, kedua, kalau tidak saya cabut. Nggak ada urusan,” ujar Bahlil.
Meski demikian, menurut laporan SKK Migas, konstruksi proyek Masela dilaporkan sudah mulai berjalan dengan proses tender yang tengah berlangsung. Saat ini, Inpex menargetkan produksi proyek Masaela dimulai pada tahun 2030, namun Bahlil meminta target tersebut dipercepat menjadi 2029 agar dapat dimulai sebelum pemilihan presiden berikutnya.
Total investasi untuk proyek ini disebut mencapai sekitar US$ 18 miliar, dan pemerintah mengharapkan percepatan ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional serta mendukung ketersediaan pasokan LNG dalam negeri.
Penulis: Dewi Anggraini | Editor: Rizky Maulana