Jakarta, – Di tengah percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terjadi secara global, seorang talenta Indonesia kini berada di pusat keputusan strategis yang memengaruhi arah inovasi AI dunia. Ia adalah Juan Anugraha Djuwadi, Product Manager di Google Amerika Serikat, yang membawa perspektif baru dalam pengembangan AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga relevan, manusiawi dan berdampak nyata bagi pengguna di berbagai budaya.
Dalam webinar bertajuk “AI Streamline Your Business: Build Internal Apps with AI”, Juan Djuwadi memaparkan visi dan prinsip yang ia pegang dalam membangun produk AI berskala global. Menurutnya, kesuksesan teknologi tidak ditentukan oleh kompleksitas semata, melainkan oleh kegunaan nyata yang dirasakan pengguna sehari-hari — sebuah insight penting yang juga relevan bagi dunia bisnis dan pemangku kebijakan di Indonesia.
Filosofi “Less is More” dan Fokus pada Detail
Juan menekankan, dalam skala miliaran pengguna, detail kecil sekalipun bisa menjadi masalah besar. Ia mengusung prinsip “less is more” dan “the details matter” sebagai landasan untuk menciptakan solusi AI yang benar-benar bermanfaat. Pandangan ini bisa menjadi panduan bagi perusahaan dan instansi yang tengah mengintegrasikan layanan digital berskala besar.
Data dan Intuisi: Pilar Inovasi Masa Depan
Juan juga mengungkapkan bahwa keputusan yang baik membutuhkan keseimbangan antara data dan intuisi. Data berfungsi sebagai alat untuk mengoptimalkan performa dan efisiensi, sementara intuisi menjadi sumber terobosan kreatif yang mendefinisikan masa depan — pendekatan yang dapat memacu inovasi bisnis dalam era digital saat ini.
AI yang Kontekstual dan Etis
Isu kepercayaan dan relevansi lokal menjadi sorotan khusus Juan. Ia menilai bahwa inovasi AI tak bisa bersifat “satu ukuran untuk semua”. Oleh sebab itu, strategi pengembangan produk di Google melibatkan kolaborasi antara tim global dan lokal agar solusi yang dihadirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan budaya pengguna di tiap wilayah.
Pelajaran untuk Indonesia dan Asia Pasifik
Meski Indonesia masih berada dalam fase transisi dalam adopsi teknologi dibandingkan pasar maju seperti AS, Juan yakin bahwa perhatian terhadap privasi data, etika AI, dan akuntabilitas sistem akan meningkat tajam seiring dengan kematangan ekosistem digital nasional. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku bisnis dan pemerintahan untuk menyiapkan strategi AI yang tepat dan bermanfaat luas.
Dengan pengalaman lintas industri teknologi global — termasuk Niantic, Scopely, Activision, dan Electronic Arts — Juan Anugraha Djuwadi menegaskan bahwa talenta Indonesia bukan hanya hadir di panggung dunia sebagai simbol, tetapi sebagai kontributor nyata dalam menentukan masa depan teknologi AI global.